Dalam Al-Qur’ân Allah menggambarkan situasi mereka sebagai berikut:
“Dan
ingatlah pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka
(seraya dikatakan kepada mereka), “kamu telah menghabiskan (rezeki) yang
baik untuk kehidupan duniamu, dan kamu telah bersenang-senang
menikmatinya, maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang
menghinakan, karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran,
dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).” (QS. Al-Ahqâf, (46):20)
Allah
menceritakan bahwa di hari akhirat Dia tidak akan mencurahkan
keberkahan kepada mereka yang mendekati keindahan, kebaikan, dan
peristiwa-peristiwa menyenangkan dalam kehidupan dengan ketidakpedulian,
dan Allah tidak akan terpengaruh oleh mereka.
Pandangan
orang-orang mu’min tentang kehidupan di dunia sungguh berbeda dari
mereka yang merasakan peristiwa dalam ketidakpedulian. Bagi orang
mu’min, “kehidupan di dunia” penuh dengan kejutan, keindahan, kebaikan,
dan kebijaksanaan. Kenyataan bahwa Allah melingkupi mereka dengan
perwujudan keindahan perbuatanNya yang tak terhingga dan sifat-sifat
luhurNya yang khas, membuat orang-orang mu’min menjalani kehidupan
dengan penuh gairah dan antusias. Setiap saat mereka merasakan
kesenangan dalam mengenal keindahan lainnya yang Allah ciptakan dan
perwujudan rahmatNya yang tidak terhingga.
Mereka
yang tidak beriman benar-benar tidak peduli atas anugrah yang begitu
besar ini dan mereka dicabut darinya. Karena setiap saat Allah
menciptakan keindahan-keindahan yang tidak disangka–beserta
detailnya–yang hanya dapat dirasakan dengan keyakinan (iman) dan hati
nurani. Bersama peristiwa ini–yang hanya dapat dilihat oleh mereka yang
memiliki keyakinan–Allah membuat hamba-hambaNya merasakan kedekatanNya
pada mereka. Merasakan kedekatan ini adalah sebuah kebahagiaan dan
keberkahan yang besar bagi seorang mu’min.
Dalam
Al-Qur’ân Allah mengingatkan hamba-hambaNya yang ikhlas mengenai
rahmatNya yang tidak terbatas pada seluruh manusia; menunjukkan bahwa
Dialah Pelindung dan Penolong yang sesungguhnya, dan Dia menjawab doa
hambaNya yang tulus. Oleh karena itu, seorang mu’min selalu sadar akan
perwujudan rahmat Allah. Bahkan dalam wujud cobaan dan kesulitan pun ia
mengetahui bahwa ini merupakan keindahan (nikmat) yang diperuntukkan
baginya. Akan tetapi, Allah juga menciptakan keindahan-keindahan
tertentu–yaitu tanda-tanda yang menunjukkan ketetapan dan perincian–yang
akan menghilangkannya dari cara pandang yang biasa, sehingga
ditakjubkan dan dianugrahinya suatu keyakinan yang kuat. Pada
masing-masing peristiwa ini, seorang mu’min merasakan kenikmatan dalam
menyaksikan perwujudan rahmat Allah yang tidak terhingga, cinta dan
kedekatanNya, serta ikatan hangat kepada hambaNya. Jiwa dan raganya
diselimuti oleh cinta dan kecenderunganNya. Selama ia masih melihat
perwujudan kehendak Allah yang tak terhingga, meyakini bahwa Dia dapat
melakukan segalanya dan Dialah yang maha Pemurah dan maha Penyayang,
maka kedekatannya pada Allah akan terus meningkat.
Tetapi
bagi seorang mu’min untuk mengalami keyakinan yang demikian
menyenangkan, ia tidak perlu menyaksikan peristiwa yang besar atau
menerima pemberian yang belum pernah diperoleh sebelumnya. Terkadang
yang tampak biasa atau peristiwa tidak penting–seperti menerima sesuatu
yang begitu diinginkan dalam pikiran, memperoleh jawaban atas
pertanyaan ketika begitu dibutuhkan, atau ditawarkan makanan yang
disukai di saat yang tak diduga–mungkin juga sudah cukup menunjukkan.
Peristiwa-peristiwa itu sendiri mungkin tidak penting, tetapi maksud
sebenarnya dari peristiwa ini yang telah ditetapkan oleh Allah sangatlah
besar. Semua peristiwa ini adalah perwujudan kekuasaan Allah,
rahmatNya yang tak terbatas. Menyatakan bahwa Dialah yang bersama
hambaNya sejak semula dan Dia melihat dan mengetahui segalanya.
Masing-masing perincian ini adalah keindahan yang tidak diduga yang
Allah ciptakan untuk membentuk hambaNya yang dengan teguh mencintaiNya,
seraya menunjukkan kedekatanNya pada mereka. Menyaksikan kenyataan
yang begitu hebat ini merupakan perantara yang sangat menggerakkan
gairah orang-orang mu’min dan mendekatkan mereka pada Allah.
“Dan
apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka
sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu dan
beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah,
(2):186)
( ID/HrnYhy )

0 komentar:
Tulis Komentar Anda Di Sini