Bila anda guru SMP atau
SMA, pasti anda setuju bila saya mengatakan mendidik remaja menuntut kesabaran
mental tersendiri. Bila kita tidak mengerti dan berempati betul terhadap
perkembangan dan tantangan remaja secara psikologis, yang ada malah “makan hati” saat mengajari mereka.
Bila saat masih anak-anak
mereka cenderung menurut dan mudah percaya dengan perkataan gurunya, saat
menginjak usia remaja mereka mulai memiliki pendapat dan pemikirannya sendiri
sehingga kadang guru mengartikannya sebagai perilaku membangkang atau tidak
sopan.
Saya pernah menegur
salah seorang siswa karena tidak berada di kelasnya saat waktu belajar. Dengan gaya
menantang dia menjawab enteng “Malas Pak…”. Perilakunya sangat tidak sopan,
secara terang-terangan dia menunjukkan sikapnya yang tidak mau menuruti peraturan.
Walaupun sempat kesal, saya
berusaha untuk tidak menunjukkannya. Saya minta dia kembali ke kelas. Setelah selesai
sholat dzuhur berjamaah, saya menyapanya kembali. Saya awali dengan obrolan
ringan yang dilanjuti dengan menanyakan sikapnya tadi pagi.
Dari obrolan kami, saya
dapat memahami bahwa siswa tersebut sedang dilanda masalah keluarga yang cukup
berat. Kedua orang tuanya bercerai, sehingga ia terjepit ditengah-tengah
perseteruan keduanya.
Anda dapat bayangkan
apa yang terjadi bila saya langsung memarahinya saat itu juga. Buat dia saya
hanya akan menjadi bagian dari rangkaian ketidakbahagiaan dalam hidupnya, tidak
lebih. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Setelah ia selesai
mengeluarkan semua uneg-unegnya, saya mulai memotivasinya, membangun mental dan
ruhiyahnya agar dapat melewati permasalahan tersebut dengan lebih positif. Sejak
saat itu, ia terlihat lebih bersemangat belajar terutama di kelas saya,
sehingga nilainya juga meningkat.
Tanpa dibarengi persoalan
kasuistik seperti remaja yang saya ceritakan di atas, secara psikologis, masa pubertas
sendiri juga merupakan proses yang tidak mudah bagi remaja. Kita sendiri juga
pasti masih ingat masa-masa galau saat masih remaja :-)
Masa remaja adalah masa
transisi dari anak-anak menjadi orang dewasa. Selain perubahan hormonal yang memberi
efek lonjakan emosional yang tidak stabil, tuntutan tugas-tugas remaja juga
menjadi sesuatu yang sangat
membingungkan bila tidak dikomunikasikan dengan baik oleh orang-orang dewasa
yang berpengaruh dalam kehidupannya.
Bayangkan, saat mereka
menginjak usia remaja, tubuh mereka, keluarga, sekolah, dan masyarakat menuntut
perubahan pada diri dan peran mereka. Mereka
dianggap bukan anak-anak lagi, namun di sisi lain terkadang orang dewasa juga
tidak mempercayai bahkan meremehkan mereka seolah-olah mereka belum cukup mumpuni.
Terkadang mereka merasa
tidak terpahami dengan baik sehingga seringkali mereka menunjukkannya dengan sikap
yang diartikan orang dewasa sebagai sikap pemberontak, pembohong, bermasalah di
sekolah, tidak patuh, tidak hormat, atau untuk kasus yang lebih ekstrim adalah
masalah obat-obatan dan alkohol, pergaulan bebas, depresi, dan isu seksualitas.
Abi Umamah, dalam
hadits riwayat Ahmad, mengisahkan suatu ketika Rasulullah SAW didatangi oleh
seorang pemuda. Si pemuda dengan lantang berkata kepada Rasulullah SAW, “Izinkan
aku berzina..”. Sontak para sahabat yang mendengarnya terbelalak dan kaget
dengan perilaku tidak sopan itu. Rasulullah menyikapinya dengan tenang, ia
meminta pemuda tadi untuk duduk di sampingnya dan kembali menanyakan apa yang
diinginkannya.
“Aku ingin berzina..” jawab
pemuda itu kembali. Rasulullah pun bertanya, “Apakah kau rela bila ibumu
dizinai laki-laki lain, kakak perempuanmu dizinai laki-laki lain, adik
perempuanmu dizinai laki-laki lain, saudara perempuanmu dizinai laki-laki lain?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak,
aku tidak rela. Rasulullah berkata, “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal
itu terjadi pada saudara perempuan dari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah menyentuh
dada pemuda itu dan mendoakannya, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah
hatinya, dan peliharalah kemaluannya..!”
Si pemuda tadi keluar
dari masjid seraya bergumam, “Tidak ada orang yang saya cintai selain
Rasulullah SAW…”. Setelah peristiwa tersebut, pemuda tadi menjadi orang yang
arif.
Apa yang dapat kita
pelajari dari pendekatan Rasulullah SAW ini adalah beliau tidak langsung
menghakimi bahwa perilaku pemuda tadi sebagai perilaku kurang ajar. Sebaliknya
beliau tetap menghormatinya, mengajaknya untuk duduk disampingnya dan berdialog
dengan lemah lembut. Pertanyaan yang disampaikan kepada pemuda tersebut adalah
pertanyaan dengan maksud untuk memancing nalar dan jiwa empati si pemuda untuk
tidak sekedar memikirkan hasratnya semata, namun juga mengajaknya untuk turut
memikirkan efek dari perbuatannya dan perbuatan laki-laki lain bila menzinai salah
seorang anggota keluarganya.
Terakhir Rasulullah SAW
menyentuh dada pemuda itu dan mendoakannya dengan tulus. Sentuhan dan doa adalah
ungkapan kasih sayang terbaik. Kadang sebagai guru atau orang tua kita menuntut
remaja untuk menghormati kita, namun kita mengkomunikasikannya dengan perkataan
yang keras, berkacak pinggang, mata melotot, muka cemberut, tangan menuding,
memanggil dengan nama yang tidak disukai, memberinya label pemalas, bodoh,
tidak penurut dan lain-lain.
Remaja sangat peka terhadap
sikap orang dewasa di sekelilingnya. Remaja mengetahui siapa orang dewasa yang
benar–benar perduli terhadap dirinya atau yang hanya sebatas di permukaan saja.
Remaja juga dapat menilai siapa saja orang dewasa yang menyapanya,
menghargainya, memujinya, berinteraksi kepadanya dengan penuh ketulusan.
Pendidik harus memahami
hal ini, sehingga dapat menyikapi remaja dengan penuh ketulusan. Guru yang menyikapi anak didiknya dengan
respek akan mendapatkan respek yang baik pula dari mereka. Bila hubungan batin
sudah terjalin, tidak sulit bagi guru untuk didengar dan diterima didikan dan
bimbingannya sehingga dengan mudah mengarahkan mereka untuk memahami tugas-tugas
dan perannya sebagai remaja.[YlntFw]


0 komentar:
Tulis Komentar Anda Di Sini