Di awal penerimaan
siswa baru, umumnya sekolah mengadakan kegiatan orientasi orang tua yang
bertujuan untuk mengenalkan identitas sekolah kepada orang tua. Ini adalah
momen yang tepat untuk mengawali jalinan harmonis antara sekolah dan orang
tua.
Sekolah harus dapat
memanfaatkan momen ini untuk mengenal orang tua secara lebih dekat dengan
membangun komunikasi dialogis atau dua arah, sehingga bukan hanya dapat
menyampaikan tujuan lembaga tapi juga dapat mengetahui harapan-harapan orang
tua terhadap sekolah.
Berdasarkan pengalaman
menggeluti dunia pendidikan, setidaknya ada dua tipe orang tua dalam menyikapi
pendidikan anaknya:
Berikan
laporan secara berkala dengan bantuan media. Sekolah dapat
menarik perhatian orang tua dengan memberikan laporan berkala tentang perkembangan
belajar siswa melalui raport bayangan, atau bila sudah berbasis Teknologi
Informasi dapat memanfaatkan email, website atau sms. Sehingga para orang tua
dapat meng-update informasi tentang
perkembangan belajar anaknya.
Kurang
perhatian dan cenderung pasif. Orang tua
memperlakukan sekolah layaknya “jual-beli”, sekolah menjual jasa pendidikan dan
orang tua membelinya. Orang tua hanya memenuhi kewajiban finansial kepada
sekolah dan mengandalkan sepenuhnya peran sekolah dalam mendidik anaknya.
Perhatian
dan proaktif. Dalam mendidik anak, orang tua tipe ini
tidak mengandalkan sepenuhnya kepada sekolah namun memposisikan sekolah sebagai
mitra untuk tujuan tersebut.
Orang tua secara aktif mengikuti perkembangan dan kemajuan belajar anak, berusaha melengkapi apa yang kurang serta menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak sekolah. Menyadari bahwa sekolah tidak mungkin sepenuhnya dapat mendidik anaknya karena porsi waktu serta daya dukung terbesar dalam mengembangkan potensi dan kecerdasan anak adalah orang tua sendiri.
Orang tua secara aktif mengikuti perkembangan dan kemajuan belajar anak, berusaha melengkapi apa yang kurang serta menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak sekolah. Menyadari bahwa sekolah tidak mungkin sepenuhnya dapat mendidik anaknya karena porsi waktu serta daya dukung terbesar dalam mengembangkan potensi dan kecerdasan anak adalah orang tua sendiri.
Bila kita cermati dua
tipe di atas, tampaklah perbedaan yang besar di antara keduanya dari sisi
kesiapan orang tua sebagai mitra sekolah. Sekolah harus berupaya agar orang tua
tipe pertama menjadi tipe kedua.
Berikut adalah
langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah agar orang tua siswa siap menjadi
mitra sekolah:
Merubah
paradigma berpikir orang tua. Kegiatan orientasi
orang tua merupakan momen yang tepat untuk menyatukan paradigma berpikir
tentang pentingnya peran orang tua sebagai mitra bersama sekolah dalam mendidik
anak.
Bila perlu kegiatan
tersebut dapat diisi dengan dialog tentang visi dan misi serta program sekolah
yang mungkin tidak semua orang tua memahami secara mendalam. Pemahaman mendalam
inilah yang akan merubah paradigma berpikir orang tua tentang pentingnya
bermitra dengan sekolah.
Adakan
pertemuan secara berkala. Mengingatkan secara berkala adalah
bagian dari usaha merubah kebiasaan. Adalah hal yang biasa bila kita menemukan
orang tua dengan tingkat kepedulian yang kurang terhadap perkembangan
pendidikan putra/ putrinya. Hal ini bisa disebabkan karena kesibukan orang tua.
Namun tetap saja
memperhatikan perkembangan pendidikan anak merupakan bagian dari tugas orang
tua yang tidak boleh diabaikan terlepas dari seberapa sibuknya mereka. Untuk
mengingatkan akan pentingnya peran tersebut, ada baiknya sekolah secara berkala
mengadakan kegiatan–kegiatan pertemuan dengan orang tua.
Sekolah tidak perlu
khawatir atau takut kebanjiran kritik atau complain
bila terlalu sering bertemu dengan orang tua. Bila dicermati dan disikapi
secara positif kritikan dan complain
dapat membesarkan dan memajukan sekolah.
Optimalisasi
komite sekolah. Komite sekolah merupakan wadah bagi
para orang tua untuk menjadi mitra sekolah. Komite sekolah menjadi sebuah
keniscayaan bagi sekolah karena ia merupakan bagian dari sistem sekolah atau
dikenal dengan istilah environmental
input.
Sekolah harus memberikan
ruang kepada komite sekolah untuk berpartisipasi membesarkan sekolah dengan
berbagai upaya, diantaranya adalah membantu sekolah untuk menyamakan persepsi
atau paradigma berpikir tentang pentingnya peran orang tua menjadi mitra
sekolah. Komite sekolah bukanlah
rival atau oposisi, melainkan ia adalah teman terbaik sekolah untuk
bersama-sama memajukan sekolah. Sinergi yang harmonis antara keduanya akan
membuahkan hasil berupa lulusan yang berkualitas.
Akhirnya dapat kita
pahami bahwa roda pendidikan di sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab
sekolah melainkan tanggung jawab bersama yaitu sekolah, orang tua dan
pemerintah. Ketiga unsur ini harus bekerja sama dalam menjalankan roda
pendidikan agar target pendidikan dapat tercapai. [YlntFw]


0 komentar:
Tulis Komentar Anda Di Sini