Guru Itu Seharusnya Dapat Di GUGU dan Di TIRU - DAKWAH BILHIKMAH | Cerdas dan Penuh Hikmah
Headlines News :
Home » » Guru Itu Seharusnya Dapat Di GUGU dan Di TIRU

Guru Itu Seharusnya Dapat Di GUGU dan Di TIRU

Written By agg on Rabu, 06 Februari 2013 | 20.57

Menjadi seorang guru awalnya bukalah suatu pilihan. Bahkan impian menjadi seorang guru tidak pernah terlintas dalam diriku saat masih duduk di bangku SMA. Menurut saya menjadi guru itu tidak keren, minimal itulah alasan saya waktu itu. Setelah lulus SMA ternyata saya malah tidak jadi apa, semua cita-cita saya kandas karena memang tidak bisa melanjutkan kuliah.
Empat tahun kemudian, saya memutuskan kuliah. Jurusan yang saya pilih adalah guru agama. Itu adalah pilihan yang nekat, karena saat itu membaca Al-quran saja saya belum lancar. Alasan saya hanya satu karena biayanya yang cukup murah. Sehingga pilihan jatuh memilih jurusan guru agama atau tarbiyah. Namun sayang, Tuhan berkehendak lain, saya gagal. Saat itu saya pikir  jadi guru agama memang bukan pilihan baik, buktinya saya gagal. Akhirnya saya cari kampus lainn, kali ini sudah agak lebih selektif, saya mengambil jurusan yang memang ada kaitannya dengan kemampuan saya, yaitu bimbingan dan konseling. Setahu saya sih masuk jurusan ini, saya akan menjadi guru BP seperti guru-guru saya waktu di SMP dan SMA. Saya berpikir ini cocok, kan saya orangnya cerewet, karena saya pikir guru BK harus cerewet. Hehehe
Setelah mendaftar dan ikut ujian, saya lolos dan resmi menjadi mahasiswa FKIP. Awal-awal kuliah saya masih belum memahami dengan benar apa esensi dari tugas saya kelas setelah jadi guru BK. Namun setelah beberapa semester di kampus, saya sadar menjadi guru atau guru BK itu tidak mudah. Karena menjadi guru memiliki tanggung jawab yang sangat berat.
Saya teringat dengan kata-kata jawa, “guru digugu lan ditiru”. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya “guru didengar dan dicontoh”. Kalimat ini cukup membuat diri saya merinding, apakah benar saya ini calon guru yang baik, yang bisa di dengar siswa dan di contoh siswa.Menyadari hal tersebut, saya mulai belajar bagaimana menjadi seorang guru yang baik, sejak masih mahasiswa.  Meskipun masih banyak kurang di sana-sini. Setelah lulus kuliah, Tuhan menjawab doa saya, saya benar-benar langsung jadi guru, bukan guru tapi ini lebih karena saya diangkat jadi staf pengajar di kampus tempat saya kuliah.
Mendapat tawaran menjadi pengajar di kampus, awalnya sempat membuat saya bingung, apakah ini benar. Muncul berbagai pertanyaan dalam diri saya. Apakah saya pantas, apakah saya mampu, apakah saya bisa menjalankan tugas ini dengan baik.  Saya pun akhirnya meminta pendapat beberapa teman yang sudah menjadi guru. Dan mereka mengatakan ini adalah kesempatan, karena tidak semua orang mendapat kesempatan seperti itu.
Selama beberapa hari saya terus bertanya, hingga akhirnya saya pun membuat suatu keputusan bahwa saya akan menerima tanggung jawab ini. Semenjak itulah saya tidak berhenti untuk belajar, semua hal yang bisa saya lakukan untuk mengembangkan diri saya lakukan. Tujuan saya hanya satu supaya saya bisa memberikan yang terbaik kepada teman-teman mahasiswa. Karena yang ada dalam pikiran saya hanya satu, mahasiswa akan percaya dengan apa yang saya katakan, kalau saya sudah melakukan apa yang saya katakan tersebut. Jadi saya fokus kepada diri saya sendiri dulu, untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.
Usaha ini benar-benar saya lakukan dengan keras, bahkan saya punya suatu moto seperti apa yang dikatakan oleh William A. Ward “Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus menunjukkan bagaimana caranya. Tetapi guru yang luar biasa menginspirasi murid-muridnya”.
Dalam tulisan ini saya tidak akan mengatakan bahwa diri saya sudah pantas di dengar dan dicontoh oleh siswa, bukan seperti itu, tapi ini adalah bahan refleksi juga untuk diri saya sendiri, karena saya masih banyak kekurangan di sana-sini. Untuk itu saya benar-benar terus belajar dan menempa diri untuk lebih baik. Selain itu, saya juga  mengembangkan kemampuan hard sklill dan soft skill yang mendukung kompetensi saya sebagai seorang guru.
Sekarang coba jawab pertanyaan seperti dalam judul. Pantaskan kita didengar dan dicontoh oleh siswa? Mari jawab bersama-sama “PANTAS! Karena dari kemarin, hari ini dan masa yang akan datang  kita terus memperbaiki diri dalam segala hal, kita lah agen perubahan yang akan mencetak para juara yang akan membanggakan para orang tua, agama, bangsa dan Negara.
Bagaimana jika ada guru yang masih letoi dalam mengajar?
Mereka letoi, karena belum sadar, dari itu mari kita sebagai sesama guru saling menyadarkan teman kita yang lain. Caranya sederhana, buat diri kita sadar dulu, buat diri kita maju dulu, buat diri kita cerdas dulu, supaya jangan sampai ketika mengingatkan malah di katai OOT (omong-omong tok).
Supaya bisa menjadi guru yang didengar dan dicontoh, maka buat diri kita pantas untuk itu. Jadi tidak akan ada lagi, yang bertanya pantaskan guru itu didengar dan dicontoh. Karena jika kita memantaskan diri untuk itu, maka dengan sendirinya kita akan menjadi role modelnya siswa dalam berkehidupan.
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda Di Sini

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DAKWAH BILHIKMAH | Cerdas dan Penuh Hikmah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger